Kata metode
berasal dari bahasa latin yaitu “methodo” yang berarti “jalan”. Winarno
Surachmad (1976:76) menyatakan bahwa metode adalah cara yang di dalam fungsinya
merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan mengajar diartikan
sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses
belajar. Lebih jelas lagi ia menyatakan bahwa metode mengajar adalah cara –
cara pelaksanaan proses belajar mengajar, atau bagaimana teknisnya sesuatu
bahan pelajaran diberikan kepada murid- murid di sekolah.
Metode adalah cara yang dianggap
efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran
tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam
proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif.
Sehubungan
dengan hal tersebut seorang guru dituntut untuk menguasai macam macam metode
mengajar sehingga dapat menentukan metode apa yang paling tepat digunakan dalam
proses pembelajarannya, sehingga kecakapan dan pengetahuan yang diberikan oleh
guru betul-betul menjadi milik siswa.
Menurut Ida
Badariyah Almatsir ada beberapa faktor yang ikut berperan dalam menentukan
efektif tidaknya suatu metode mengajar. Faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Tujuan pengajaran
2.
Bahan pengajaran
3.
Siswa yang belajar
4.
Kemampuan guru yang mengajar
5.
Besarnya jumlah siswa
6.
Alokasi waktu yang tersedia
7.
Fasilitas yang tersedia
8.
Media dan sumber
9.
Situasi pada suatu saat
10. Sistem
evaluasi
Menurut
Husein Akhmad dkk(1981;58) seorang guru IPS dalam memilih metode hendaknya
memperhatikan faktor –faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut adalah :
1.
Pengajar (guru)
2.
Siswa
3.
Tujuan yang akan dicapai
4.
Materi/bahan
5.
Waktu
6.
Fasilitas yang tersedia
1. Metode role
playing (bermain peran )
Metode role
playing tidak bisa lepas dari metode sosiodrama , sebab keduanya sama – sama
dapat diterapkan dalam pengajaran IPS yang sukar dipisahkan satu sama lainnya.
Role playing adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang dipakai untuk
menjelaskan peranan, sikap, tingkah laku, nilai dengan tujuan menghayati
perasaan, sudut pandang, dan cara berpikir orang lain.
Dengan
demikian role playing merupakan sutau teknik atau cara agar para guru dan siswa
memperoleh penghayatan nilai-nilai dan perasaan. Sedangkan sosiodrama berarti
mendramatisasikan cara tingkah laku di dalam hubungan sosial.
Tujuan dan manfaat role playing
(menurut shaftel)
1.
Agar menghayati sesuatu kejadian atau hal yang
sebenarnya dalam realita hidup.
2.
Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu
serta bagaimana akibatnya.
3.
Untuk mempertajam indera dan rasa siswa terhadap
sesuatu.
4.
Sebagai penyaluran / pelepasan ketegangan dan perasaan
– perasaan.
5.
Sebagai alat diagnosa keadaan kemampuan siswa.
6.
Pembentukn konsep secra mandiri.
7.
Menggali peranan-peranan daripada seseorang dalam
suatu kehidupan kejadian/ keadaan.
8.
Membina siswa dalam kemampuan memecahkan masalah,
berfikir kritis, analisis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dan lain – lain.
9.
Melatih anak ke arah mengendalikan dan membaharui
perasaannya, cara berfikirnya, dan perbuatannya.
Model
mengajar ini bertujuan mendesain pandangan siswa ke dalam nilai-nilai pribadi
dan nilai-nilai sosial, dengan tingkah laku mereka sndidri dan nilai-nilai
tersebut menjadi sumber bagi penemuan mereka.
Pada model
bermain peran, (Joice dan Weill, 1996) siswa mengeksplorasi problem-problem
relasi manusia dalam situasi masalah yang sedang berlangsung kemudian
mendiskuikannya. Secara bersama-sama siswa dapat menggali perasaan, sikap,
nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah. Langkah-langkah dalam pembelajaran
bermain peran (Bruce Joice, 2006) adalah sebagai berikut:
·
Tahap 1 : persiapan kelompok (identifikasi dan
memperkenlkan masalah, mengeksplisit masalah, menggali issue utama, penjelasan bermain
peran)
·
Tahap 2 : pemilihan partisipan (analisis peran,
memilih pemain peran)
·
Tahap 3 : setting tahapan bermain (setting aturan
main, penegasan peran, menmukan masalah-masalah dari dalam yang mungkin terjadi
pada situasi masalah)
·
Tahap 4 : menyiapkan pengamat (menentukan apa yang
harus dicari pengamat, menandai lembar/tugas observasi)
·
Tahap 5 : memerankan (memulai bermain peran,
mengendalikan bermain peran, menghentikan bermain peran)
·
Tahap 6 : diskusi dan evaluasi (membahas permainan
peran-peristiwa, posisi, dan realisasinya)
·
Tahap 7 : memainkan peran kembali
·
Tahap 8 : diskusi dan evaluasi (seperti pada tahap 6)
Masalah-masalah sosial yang dapat
dijajaki dengan metode role playing adalah sebagai berikut :
1.
Masalah pertentangan antar pribadi – pribadi
2.
Masalah hubungan antar kelompok. Mengungkapkan masalah
hubungan antar suku, bangsa, kepercayaan.
3.
Masalah kemelut pribadi kemelut antara tekanan orang
tua dan kemauannya, juga antara kelompoknya dengan kemauannya.
2. Metode Cooperative
learning
Cooperative learning
atau sering disebut dengan kooperasi adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
berisi serangkaian aktivitas yang diorganisasikan. Pembelajaran tersebut
difokuskanpada pertukaran informasi terstrukturantar sisswa dalam kelompok yang
bersifat social dan pembelajar bertanggung jawab atas tugasnya masing – masing.
Teknik teknik pembelajarn
cooperative learning:
·
Teknik mencari pasangan
Teknik ini digunakan untuk memahami
suatu konsep atau infor masi tertentu yang harus ditemukan siswa. Keunggulannya
siswa dapat mencari pasangna sambil belajar menggali satu konsep atau tema
dalam suasana yang menyenangkan. Tenik ini dapat digunakan dalam semua mata
pelajaran da untuk semua tingkat usia anak.
·
Bertukar pasangan
Tenik dapat member kesempatan kepada
siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain. Teknik ini jga dapat diterapkan
kepada semua mata pelajaran dan semua tingkat usia anak didik.
·
Berpikir berpasangan berempat
Teknik ini memberi kesempatan kepada
siswa untuk bekerja sendiri atau bekerjasama dengan siswa lain. Keunggulannya
adalah optimalisasi partisipasi siswa. Teknik ini juga dapat diterapkan pada
semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak didik
·
Keliling kelompok
Teknik ini dapat diterapkan pada
semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak didik. Dalam kegiatan
keliling kelompok,masing – masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk
memberikan kontribusinya dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota
lainnya.
·
Jigsaw
Teknik dapat digunakan untuk
kegiatan pembelajaran membaca , menulis , berbicara , dan mendengarkan. Teknik
ini dapat diterapkan untuk semua kelas dan cocok untuk mata pelajaran bahasa
Indonesias, IPA, IPS, dan Agama.
3.
Metode
Mind Mapping
Mind map dalam bahasa Indonesia berarti
peta pikiran (dari kata mind = pikiran, dan map =
peta). Pengertian mind map, menurut sang pengembang, Tony Buzan,
adalah suatu teknik mencatat yang menonjolkan sisi kreativitas sehingga efektif
dalam memetakan pikiran (Tony Buzan dan Barry, 2004). Teknik mencatat melalui
peta pikiran (mind map) ini dikembangkan berdasarkan bagaimana cara otak
bekerja selama memproses suatu informasi. Selama informasi disampaikan, otak
akan mengambil berbagai tanda dalam bentuk beragam, mulai dari gambar, bunyi,
bau, pikiran, hingga perasaan. Selanjutnya melalui pembuatan mind map,
informasi tadi direkam dalam bentuk simbol, garis, kata, dan warna. Mind
map yang baik akan dapat menggambarkan pola gagasan yang saling
berkaitan pada cabang-cabangnya.
Konsep Mind Mapping asal mulanya
diperkenalkan oleh Tony Buzan tahun 1970-an. Teknik ini dikenal juga dengan
nama Radiant Thinking. Sebuah mind map memiliki sebuah ide atau kata sentral,
dan ada 5 sampai 10 ide lain yang keluar dari ide sentral tersebut. Mind
Mapping sangat efektif bila digunakan untuk memunculkan ide terpendam yang kita
miliki dan membuat asosiasi di antara ide tersebut. Mind Mapping juga berguna
untuk mengorganisasikan informasi yang dimiliki. Bentuk diagramnya yang seperti
diagram pohon dan percabangannya memudahkan untuk mereferensikan satu informasi
kepada informasi yang lain.
Mind mapping merupakan tehnik
penyusunan catatan demi membantu siswa menggunakan seluruh potensi otak agar
optimum. Caranya, menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan. Dengan metode
mind mapping siswa dapat meningkatkan daya ingat hingga 78%.
Manfaat
Teknik Mencatat dengan Teknik Mind Map
Ada banyak manfaat atau keunggulan yang dapat diraih bila siswa menggunakan
teknik mencatat mind map (peta pikiran) ini dalam kegiatan
pembelajarannya, di antaranya:
1) Mind
map meningkatkan kreativitas dan aktivitas individu maupun kelompok
Bila siswa terbiasa menggunakan teknik mind map (peta
pikiran) ini dalam mencatat informasi pembelajaran yang diterimanya, tentu akan
menjadikan mereka lebih aktif dan kreatif. Penggunaan simbol, gambar, pemilihan
kata kunci tertentu untuk dilukis atau ditulis padamind map mereka
merangsang pola pikir kreatif.
2) Mind
map memudahkan otak memahami dan menyerap informasi dengan cepat
Catatan yang dibuat dengan teknik mind map dapat dengan mudah dipahami oleh
orang lain, apalagi oleh sang pembuatnya sendiri.Mind map membuat
siswa harus menentukan hubungan-hubungan apa atau bagaimana yang terdapat antar
komponen-komponen mind map tersebut.Hal ini menjadi mereka
lebih mudah memahami dan menyerap informasi dengan cepat.
3) Mind
map meningkatkan daya ingat
Catatan khas yang dibuat dengan mind map karena sifatnya
spesifik dan bermakna khusus bagi setiap siswa yang membuatnya (karena
melibatkan penggunaan dan pembentukan makna atar komponen mind map),
akan dapat meningkatkan daya ingat mereka terhadap informasi yang terkandung di
dalam mind map itu.
4) Mind
map dapat mengakomodasi berbagai sudut pandang terhadap suatu
informasi
Setiap siswa tentu akan mempunyai beragam sudut pandang terhadap suatu
informasi yang disampaikan oleh guru atau yang mereka terima dari sumber-sumber
belajar lainnya. Beragamnya sudut pandang ini memungkinkan mereka untuk
memaknai secara khas informasi tersebut dan dituangkan secara khas pada mind
map mereka masing-masing.
5) Mind
map dapat memusatkan perhatian siswa
Selama proses pembuatan mind map perhatian siswa akan
terpusat untuk memahami dan memaknai informasi yang diterimanya. Ini akan
membuat kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih efektif.
6) Mencatat
dengan teknik mind map menyenangkan
Anak mana yang tak suka pelajaran menggambar sewaktu di sekolah dasar?
Bahkan hingga dewasa orang-orang suka menggambar. Teknik menulis menggunakan
mind map tentu menyenangkan bagi siswa, sejelek apapun kemampuan mereka
menggambar simbol-simbol. Kegiatan yang menyenangkan selanjutnya akan
menimbulkan suasana positif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
7) Mind
map mengaktifkan seluruh bagian otak
Selama mencatat dengan teknik mind map kedua belahan otak
akan dimaksimalkan penggunaannya. Siswa tidak hanya menggunakan belahan otak
kiri terkait pemikiran logis, tetapi mereka juga dapat menggunakan belahan otak
kanan dengan mencetuskan perasaan dan emosi mereka dalam bentuk warna dan
simbol-simbol tertentu selama membuat mind map (peta pikiran).
Kelebihan
dan Kekurangan mind mapping
Ø Ada beberapa
kelebihan saat menggunakan teknik mind mapping ini, yaitu :
·
Cara ini cepat
·
Teknik dapat digunakan untuk mengorganisasikan ide-ide
yang muncul dikepala anda
·
Proses mengganbar diagram bisa memunculkan ide-ide
yang lain.
·
Diagram yang sudah terbentuk bisa menjadi panduan
untuk menulis.
Ø Kekurangan
model pembelajaran mind mapping:
·
Hanya siswa yang aktif yang terlibat
·
Tidak sepenuhnya murid yang belajar.
·
Jumlah detail informasi tidak dapat dimasukkan
4.
Metode
Problem Solving
Metode pemecahan masalah (problem
solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan
melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau
perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara
bersama-sama.
Penyelesaian masalah merupakan proses
dari menerima tantangan dan usaha – usaha untuk menyelesaikannya sampai
menemukan penyelesaiannya. menurut Syaiful
Bahri Djamara (2006 : 103) bahwa: Metode problem solving (metode
pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan
suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode
lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Menurut
N.Sudirman (1987:146) metode problem solving adalah cara penyajian bahan
pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk
dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawabannya
oleh siswa. Sedangkan menurut Gulo
(2002:111) menyatakan bahwa problem solving adalah metode yang mengajarkan
penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya suatu
masalah secara menalar.
Ada
beberapa kriteria pemilihan bahan
pelajaran untuk metode pemecahan masalah yaitu:
a) Mengandung isu – isu yang mengandung
konflik bias dari berita, rekaman video dan lain – lain
b) Bersifat familiar dengan siswa
c) Berhubungan dengan kepentingan orang
banyak
d) Mendukung tujuan atau kompetensi yang
harus dimiliki siswa sesuai kurikulum yang berlaku
e) Sesuai dengan minat siswa sehingga siswa
merasa perlu untuk mempelajari
Dalam pelaksanaan pembelajaran
sehari-hari metode pemecahan masalah
banyak digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lainnya. Dengan metode
ini guru tidak memberikan informasi dulu
tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalahnya.
Pembelajaran pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan
melalui praktikum atau pengamatan.
Suatu soal dapat dipandang sebagai
“masalah” merupakan hal yang sangat relatif. Suatu soal yang dianggap sebagai
masalah bagi seseorang, bagi orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin
belaka. Dengan demikian, guru perlu berhati-hati dalam menentukan soal yang
akan disajikan sebagai pemecahan masalah. Bagi sebagian besar guru untuk
memperoleh atau menyusun soal yang benar-benar bukan merupakan masalah rutin
bagi siswa mungkin termasuk pekerjaan yang sulit. Akan tetapi hal ini akan
dapat diatasi antara lain melalui pengalaman dalam menyajikan soal yang
bervariasi baik bentuk, tema masalah, tingkat kesulitan, serta tuntutan
kemampuan intelektual yang ingin dicapai atau dikembangkan pada siswa.
Pembelajaran problem solving merupakan
bagian dari pembelajaran berbasis masalah (PBL). Menurut Arends (2008 : 45)
pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di
mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun
pengetahuan mereka sendiri.
Pada
pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan pemecahan
masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi
sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan
yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban
yang benar artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kritis. Siswa
diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan
pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada di lingkungannya.
Manfaat dan Tujuan
dari Metode Pemecahan Masalah (Problem
Solving Method)
·
Manfaat dari penggunaan
metode problem solving pada proses belajar mengajar untuk mengembangkan
pembelajaran yang lebih menarik. Menurut Djahiri (1983:133) metode problem
solving memberikan beberapa manfaat antara lain :
o Mengembangkan
sikap keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan, serta dalam mengambil
kepuutusan secara objektif dan mandiri
o Mengembangkan
kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang menyatakan bahwa kemampuan
berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah
o Melalui
inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi
atau keadaan yang bener – bener dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai
macam ragam altenatif
o Membina
pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif
– mandiri, krisis – analisis baik secara individual maupun kelompok
Berhasil
tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai.
Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut.
1) Siswa menjadi terampil menyeleksi
informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali
hasilnya.
2) Kepuasan intelektual akan timbul dari
dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.
3) Potensi intelektual siswa meningkat.
4) Siswa belajar bagaimana melakukan
penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan.
Langkah
– Langkah Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)
Penyelesaian
masalah menurut J.Dewey dalam bukunya W.Gulo (2002:115) dapat dilakukan melalui
enam tahap yaituTahap – Tahap Kemampuan
yang diperlukan
·
Merumuskan
masalah
Mengetahui dan
merumuskan masalah secara jelas
·
Menelaah
masalah
Menggunakan pengetahuan
untuk memperinci menganalisa masalah dari berbagai sudut
·
Merumuskan
hipotesis
Berimajinasi dan
menghayati ruang lingkup, sebab – akibat dan alternative penyelesaian
·
Mengumpulkan
dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis Kecakapan
mencari dan menyusun data menyajikan data dalam bentuk diagram,gambar dan tabel
·
Pembuktian
hipotesis
Kecakapan menelaah dan
membahas data, kecakapan menghubung – hubungkan dan menghitung Ketrampilan
mengambil keputusan dan kesimpulan
·
Menentukan
pilihan penyelesaian
Kecakapan membuat altenatif
penyelesaian kecakapan dengan memperhitungkan akibat yang terjadi pada setiap
pilihan
5.
Metode Inkuiri
Metode
inkuiri adalah suatu cara menyampaikan pelajaran dengan penelaahan sesuatu yang
bersifat mencari secara kritis, analisis, dan argumentative (ilmiah) dengan
menggunakan langkah-langkah tertentu menuju kesimpulan (Usman, 1993:124).
Metode inkuiri memberikan perhatian dalam mendorong diri siswa mengembangkan masalah. Sudyna (1986:21) mengemukakan bahwa inkuiri adalah metode mengajar yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah.
Metode inkuiri merupakan metode discovery artinya suatu proses mental yang lebih tingkatannya (Anita, 2001:1-4). Upaya mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan yang dibutuhkan siswa untuk membantu memecahkan masalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memperoleh jawaban atas dasar rasa ingin tahu merupakan bagian proses inkuiri. Keterlibatan aktif secara mental dalam kegiatan belajar yang sebenarnya. Inkuiri secara kooperatif memperkaya cara berpikir siswa dan mendorong mereka hakekat timbulnya pengetahuan tentative dan berusaha menghargai penjelasan.
Inkuiri atau penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya (Oemar Hamalik, 2001:219). Penemuan yang dilakukan tentu saja bukan penemuan yang sesungguhnya, sebab apa yang ditemukan itu sebenarnya sudah ditemukan orang lain. Jadi penemuan disins adalah penemuan pura-pura atau penemuan siswa yang bersangkutan saja.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode inkuiri adalah suatu cara menyampaikan pelajaran yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya.
Metode inkuiri memberikan perhatian dalam mendorong diri siswa mengembangkan masalah. Sudyna (1986:21) mengemukakan bahwa inkuiri adalah metode mengajar yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah.
Metode inkuiri merupakan metode discovery artinya suatu proses mental yang lebih tingkatannya (Anita, 2001:1-4). Upaya mengembangkan disiplin intelektual dan ketrampilan yang dibutuhkan siswa untuk membantu memecahkan masalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memperoleh jawaban atas dasar rasa ingin tahu merupakan bagian proses inkuiri. Keterlibatan aktif secara mental dalam kegiatan belajar yang sebenarnya. Inkuiri secara kooperatif memperkaya cara berpikir siswa dan mendorong mereka hakekat timbulnya pengetahuan tentative dan berusaha menghargai penjelasan.
Inkuiri atau penemuan adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya (Oemar Hamalik, 2001:219). Penemuan yang dilakukan tentu saja bukan penemuan yang sesungguhnya, sebab apa yang ditemukan itu sebenarnya sudah ditemukan orang lain. Jadi penemuan disins adalah penemuan pura-pura atau penemuan siswa yang bersangkutan saja.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode inkuiri adalah suatu cara menyampaikan pelajaran yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya.
Langkah-langkah dalam proses inkuiri
Langkah-langkah
dalam proses inkuiri adalah (Sagala, 2003:97):
- Menyadarkan peserta didik bahwa mereka memiliki keingintahuan terhadap sesuatu.
- Perumusan masalah yang harus dipecahkan peserta didik.
- Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis.
- Mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis.
- Menarik kesipulan jawaban atau generalisasi.
- Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dari situasi baru.
Strategi pelaksanaan metode inkuiri
Strategi
pelaksanaan metode inkuiri adalah sebagai berikut (Mulyasa 2006:235):
- Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. Sebelum memulai pelajaran guru guru harus memahami sejauh mana peserta didik memiliki persepsi terhadap materi tersebut. Kemudian guru dan peserta didik bersama-sama membandingkan persepsi dengan berbagai pendapat atau teori yang sudah ada.
- Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk membaca atau menjawab pertanyaan serta pekerjaan rumah.
- Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik.
- Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah mereka pelajari agar dapat dipahami.
- Guru memberikan penjelasan informasi sebagai pelengkap dan ilustrasi terhadap data yang telah disajikan.
- Mendiskusikan aplikasi dan melakukan sesuai dengan informasi tersebut.
- Merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kelebihan dan kelemahan metode inkuiri
Kelebihan
metode inkuiri sebagai berikut :
- Siswa aktif dalam kegiatan belajar.
- Membangkitkan motivasi belajar siswa.
- Siswa memahami benar bahan pelajaran.
- Menimbulkan rasa puas bagi siswa dan menambah kepercayaan pada diri sendiri menjadi penemu.
- Siswa akan dapat mentransfer pengetahuannya dalam berbagai konteks.
- Melatih siswa belajar mandiri.
Kelemahan
metode inkuiri sebagai berikut :
- Menyita waktu banyak.
- Cara belajar ini diperlukan adanya kesiapan mental.
- Tidak semua siswa dapat melakukan penemuan.
- Tidak berlaku untuk semua topic.
- Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas yang besar, karena sangat merepotkan guru.